SMA Batik 1 selenggarakan Workshop Pembelajaran

Sebanyak 30 Bapak/Ibu Guru dari sejumlah SMA Negeri dan Swasta mengikuti Workshop Pembelajaran tanggal 10-11 Pebruari 2009 yang diselenggarakan SMA Batik 1 Surakarta . Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Dikpora Kota Surakarta, Bapak. H Amsori, S.H, M.Pd ini bertujuan meningkatkan kemampuan Guru dalam mempersiapkan pembelajaran dikelas khususnya bahan ajar dan dapat mensosialisasikan ke teman-teman disekolah asal, demikian dikatakan oleh Bapak Drs. Teguh Rahayu Slamet, S.Pd, M.Pd selaku penanggung jawab RSKM SMA Batik 1 Surakarta.

Pembukan Workshop Oleh Kepala Dinas Dikpora

Pembukan Workshop Oleh Kepala Dinas Dikpora, Bapak Drs. H. Amsori, S.H.,M.Pd

Menurut Bapak Drs. H. Amsori, S.H., M.Pd dalam membuka Workshop Pembelajaran, Dinas Dikpora menyambut baik setiap kegiatan yang mampu meningkatkan kompetenai guru. SMA Batik 1 Surakarta adalah salah satu sekolah yang memiliki komitmen kuat dalam pengembangan pendidikan di Surakarta. Bahkan kami _ Bapak Amsori-red, sering menyebut SMA Batik 1 , sebagai SMA Negeri Batik 1, ujar beliau sambil berkelakar. Sebelum meninggalkan Workshop Bapak Drs. H. Amsori, S.H.,M.Pd berpesan kepada peserta untuk mengikuti kegiatan dengan baik, mengingat sekarang untuk sertifikasi workshop adalah sarana yang penting, bahkan sekarang lembaga-lembaga yang “kurang jelas” rame-rame menyelenggarakan workshop.

  1. Pengembangan Silabus
Drs.Literzet Sobri, M.Pd, menyampaikan Materi Pengembangan Silabus

Drs.Literzet Sobri, M.Pd, menyampaikan Materi Pengembangan Silabus

Pada Sesi pertama, disampaikan Bapak Drs. Literzet Sobri, M.Pd, narasumber LPMP Jawa Tengah sekaligus Kepala SMA Batik 1 Surakarta tentang pengembangan silabus dan RPP. Menurut beliau, pemgembangan silabus yang berkembang selam ini masih copy paste, dari sekolah satu ke sekolah lain tanpa mengembangkan atau merubah komponen yang menjadi kewenangan guru. pada pengembangan silabus, guru memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan komponen silabus pada materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian dan sumber belajar mestinya berkembang sesuai dengan makna kurikulum tingkat satuan pendidikan. lebih lanjut disampaikan tentang Kegiatan Tatap Muka, penugasan terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak tersetruktur oleh Bapak Teguh Rahayu Slamet, S.Pd, M.Pd. hal ini cukup menarik peserta workshop untuk membuat RPP dengan format baru yang ada. pada format tersebut mestinya disebutkan secara jelas kegaiatan tatap mukanya apa, penugasan terstrukturnya apa, dan Kegaiatan Mandiri Tidak Terstruktur.

2.  Analisis Butir Soal

Pada sesi kedua disampaikan materi tentang Penulisan Soal dan Analisis Butir Soal oleh Bapak Drs. Soemarsono, M.Pd. membuat soal adalah kewajiaban yang tidak bisa dihindari guru karena untuk alat ukur. Pada Sesi ini antusiasme peserta sangat tinggi karena ada simulasi analisis butir soal menggunakan softwere dengan metode itemen dan K. Richarson. Dengan softwere ini Bapak/Ibu guru dapat menganalisis butir soal hanya dalam waktu singkat tinggal menuliskan jawaban siswa, berbeda dengan cara manual yang memakan waktu lama. lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa kedua metode ini cukup praktis dan memiliki keunnggulan masing – masing. untuk anda yang berminat anda dapat mendownload soft di  Analisis Butir Soal

Drs. Soemarsono, M.Pd, memberikan contoh Pembuatan dan analisis butir soal

Drs. Soemarsono, M.Pd, memberikan contoh Pembuatan dan analisis butir soal

3.   Pengembangan Bahan Ajar (Modul Cetak)

pada  Sesi ketiga, diawali dengan bernyanyi bersama untuk sekedar icebreaking oleh Pemateri Prof. DR. Markhamah, M.Hum., hal ini dilakukan melihat kondisi peserta yang sudah agak lelah. setelah bernyanyi bersama cukup untuk menyegarkan kembali suasana. Pada sesi ini disampaikan materi Pengembangan Bahan Ajar ( modul cetak), menurut

Prof. DR. Markhmah, M.Hum, menyampaikan materi Bahan Ajar dalam Bentuk Cetak

Prof. DR. Markhmah, M.Hum, menyampaikan materi Bahan Ajar dalam Bentuk Cetak

Prof. Markhamah tidak semua buku cetak adalah bahan ajar, ada pengertian dan prasyarat tersendiri mengenai pengertian Bahan ajar. Menurut beliau, bahan ajar adalah mahan-bahan bisa audio, visual, cetak atau materi pelajaran yang disusun sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Perbedaan yang nampak jelas pada bahan ajar dan bukan adalah terdapatnya pedoman guru atau siswa untuk mempermudah guru atau siswa menggunakan bahan ajar  yang tealah dikembangkan.  Menurut beliau, bahan ajar cetak terbukti lebih praktis dan ekonomis dibanding dengan bahan ajar elektrik.  Bahan ajar memiliki karakteristik antara lain : Self instructional, self containd, stand alone, adaptif dan user friendly.

Penulisan modul atau bahan ajar bertujuan memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agak tidak terlalu verbalistik, mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan gaya indera siswa, peserta diklat, guru atau instruktur dan dapat digunakab secara tepat dan bervariasi.  dalam pengembangan modul ada enam tahap, yaitu analisis, perencanaan, pengembangan, evaluasi dan produksi.

By zaenul Arifin Posted in Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s