Pembelajaran dengan Keteladanan dan Pembiasaan bagi anak

 

”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah Suri Teladan yang baik”

Bagi setiap orang tua, memiliki anak yang sholeh dan sholihah merupakan harapan dalam hidupnya. Karena anak yang sholeh dan sholihah merupakan asset dunia dan akhirat yang mampu mengalirkan pahala kepada kedua orang tuanya, meskipun orang tuanya telah meninggal dunia. Sebagaimana sabda Rosulullah saw  : “ Apabila manusia meninggal dunia, terputus semua amalnya kecuali 3 (tiga) perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya”.

Kemudian yang jadi pertanyaan adalah, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mencapai harapannya tersebut? Karena harapan tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh adalah sia-sia dan hanya sebatas harapan kosong semata.  Oleh karena itu dibutuhkan perjuangan, kesabaran, dan keteguhan niat untuk mewujudkannya.

Anak merupakan amanah yang wajib dijaga, dipelihara, dirawat, kasihi, diberi pendidikan dan kehidupan yang layak.  Pendidikan layak yang dimaksud adalah  bimbingan dan arahan yang terus menerus terhadap anak untuk menanamkan nilai-nilai agama sebagai pondasi dalam kehidupannya di masa depan. Lantas bagaimana cara menanamkan nilai-nilai agama tersebut ??? Cukupkah dengan memilihkan sekolah yang “islami” ?  Diikutkan sekolah Dinniyah atau TPA ?? Bahkan memanggil guru agama privat ??  Jawabnya tentu tidak cukup !!! Memang benar dengan bersekolah di sekolah islami, anak akan bertambah ilmu agamanya dibanding di sekolah “biasa”. Demikian juga dengan sekolah dinniyah, TPA atau guru privat agama. Yang terpenting adalah terciptanya kondisi yang kondusif di lingkungan terpenting bagi anak yaitu keluarga.

Betapapun anak mendapat pengetahuan agama yang baik di sekolah, di TPA, atau yang lain, tidak akan besar pengaruhnya dibandingkan dengan memperolehnya secara langsung dalam keluarganya. Dari ayah, Ibu, kakak, dan orang-orang dewasa  yang berada di sekitarnya. Di sinilah fungsi keteladanan dan pembiasaan  sebagai metode penanaman nilai-nilai agama yang sangat efektif. Falsafah jawa mengatakan ”iso amargo soko kulino” adalah ungkapan yang sangat tepat dalam pembelajaran buat anak. Beberapa contoh nyata dalam dunia bisnis (profesional) ternyata lahir dari mereka yang tidak pernah mengenyam pembelajaran formal. Mereka berhasil dan profesional karena melakukan dan membiasakan dari apa yang dialami. Demikian halanya dengan pembentukan karakter (self konsep) pada anak.  

Keteladanan terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai pada anak, terutama pada anak usia balita dan usia Sekolah Dasar. Dimana anak usia ini memiliki sifat khas yaitu imitasi (meniru). Anak-anak usia ini menganggap perilaku orang dewasa sebagai sesuatu yang seharusnya benar. Sehingga secara sadar maupun tidak, anak akan menirukannya. Misalnya orang tua  yang selalu mengucapkan salam ketika keluar dan masuk rumah, hampir dapat dipastikan anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. Ini menggambarkan bahwa orang tua menjadi model (contoh) atau  teladan bagi anak-anaknya.

Menjadi teladan bagi anak-anak tidak cukup hanya melakukan hal-hal yang baik dihadapan anak, tetapi perlu adanya penguatan dengan membibing dan mengarahkan anak dengan pembiasaan. Misalnya orang tua tidak cukup hanya senantiasa melaksanakan sholat 5 waktu dan membiarkan anak sampai meniru sendiri perilaku tersebut. Akan jauh lebih efektif, apabila orang tua melaksanakan sholat sekaligus mengajak anak ikut serta. Sebaliknya kalau orang tua saja tidak menjalankan sholat, maka orang tua tidak bisa berharap banyak anak akan melakukannya. Wallahu a’lam bishowwab

Terdapat sedikit perbedaan antara keteladanan dan pembiasaan. Akan tetapi kedua hal tersebut saling menunjang. Keteladanan merupakan konotasi kata yang positif, sehingga hal-hal yang mengikuti adalah perilaku, sikap, maupun perbuatan yang secara normatif baik dan benar. Dalam keteladanan terdapat unsur mengajak secara tidak langsung, sehingga terkadang kurang efektif tanpa ada ajakan secara langsung yang berupa pembiasaan. Begitu pula dengan pembiasaan yang secara langsung mengarahkan pada suatu perilaku, sikap maupun perbuatan yang diharapkan, kurang dapat berhasil dengan baik tanpa adanya keteladanan.

Berikut  ini beberapa contoh keteladanan dan pembiasaan yang kurang tepat, yaitu :

  • Orang tua berharap anaknya selalu berkata jujur, tetapi ketika anak menyampaikan kritikan terhadap kekeliruan orang tua, justru dikatakan tidak sopan dan berani pada orang tua.
  • Orang tua berharap anaknya rajin belajar, tetapi orang tua tidak pernah mendampingi anak dalam belajar dan mengapresiasi belajar anak.
  • Orang tua berharap anak makan minum dengan tangan kanan dan duduk, tetapi orang tua terkadang masih menggunakan tangan kiri dan makan minum sambil berdiri.
  • Orang tua berharap anak dapat sholat, makan, dan tidur tepat waktu, tetapi orang tua sering lalai dan menunda-nunda.
  • Orang tua berharap anak dapat meletakkan barang-barang pada tempatnya, tetapi orang tua justru sering lalai meletakkan sesuatu pada tempatnya.
  • Orang tua berharap anak dapat menjaga auratnya dan terhindar dari bahaya, tetapi orang tua belum memberi teladan yang baik.
  • Orang tua berharap memiliki anak yang tidak pemarah, tetapi terkadang orang tua tidak dapat mengendalikan emosi dikala mengatasi perilaku anak.

Memang tidaklah mudah menjadi orang tua yang dapat memberi keteladanan dan pembiasaan yang sempurna. Banyak sekali kendala yang terkadang merupakan kelemahan manusiawi, akan tetapi yang terpenting dari itu semua adalah kegigihan untuk senantiasa memperbaiki diri.

Dengan keteladanan dan pembiasaan ternyata mampu menjadi metode pembelajaran yang efektif bagi anak baik dalam penenaman nilai – nilai  agamis  maupun pembelajaran formal (sekolah). Semakin sering seseorang melakukan sesuatu maka semakin menguasai hal tersebut. Jika kita benar-benar berharap memiliki anak yang sholeh dan sholihah, yang dapat menjadi penyejuk jiwa, dan pengirim do’a di kala kita telah kembali padaNya, maka semangat itu akan selalu ada dan terus menyala demi satu tujuan yang kita idam-idamkan. Semoga Allah senantiasa membibing langkah-langkah kita bersama. Amien Ya Robbal ‘Alamiin.

 

           

8 comments on “Pembelajaran dengan Keteladanan dan Pembiasaan bagi anak

  1. terimaksih mass blognya sangat menarik, kalau boleh tau ada ga yah indikator sebuah pembiasaan itu, atau sesuatu itu bisa dikatakan sebagai pembiasaan?

  2. Ass,Wr,Wb.
    Saya berpendapat sudah saatnya diterapkan. Sekedar informasin bahwa pembelajaran di SMALB Negeri Cilacap bagi anak tunarungu dan tunagrahita secara prinsip menerapkan konsep pembiasaan dan keteladanan sebagai metoda pembelajaran. Hal ini kami terapkan atas dasar analisa kami bahwa salah satu sifat :
    1. Anak tunarungu dan tunagrahita ada kecenderungan menilai apa yang dilakukan oleh guru dianggap sebagai sesuatu yang benar, jadi guru harus menyiapkan diri sebagai alat peraga atau media pembelajaran dalam kesehariannya.
    Selamat !

    Wass. Yuswan

  3. relaksasi atau apapun namanya dapat kita ajarkan kepada anak kita, utamanya memberikan ruang untuk berekspresi dengan pikiranya. jangan di nilai dulu atau dilarang atau vonis iu kurang baek dsb. hendaklah setiap muslim yang beriman untuk bermuhasabah setiap akan dan selesai pekerjaan. insya allah akan dapat memberikan ruang kreatif bagi pikiran kita dan anak kita

    • terima kasih atas kunjungannya. ndak meski mamber ini gratis untuk siapapun yang butuh info n ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s