BEBERAPA TINDAKAN KURANG TEPAT YANG DILAKUKAN ORANG TUA

Oleh Fitri Ariyani, Psi

“Janganlah meninggalkan anak – anak kalian dalam keadaan lemah”

Anak adalah amanah Allah SWT bagi para Orang Tua, apapun dan bagaiamanapun anak itu adanya, sifatnya, bentuknya fisiknya, dan segala yang melekat pada anak. Dalam kacamata illahiyah semua anak terlahir dalam keadaan sama-sama sucinya. Sebagai seorang muslim konsep tabularasi yang diungkapkan ahli psikologi tidaklah terlalu tepat. Sejak anak dikandungan samapi lahir dan besar bukanlah tanpa “potensi hidup –ruh illahiyah“, artinya ada potensi hidup yang memang tercipta sejak ditiupknya ruh oleh malaikat. Ini yang membedakan dengan konsep tabularasi yang menganggap anak/bayi tidak punya apa-apa layaknya kertas putih kosong tanpa potensi ruhiyah. Ketika anak sebelum lahir Allah telah memberikan garis hidup/catatan hidup seorang hamba Allah SWT, didalam proses hidup manusia dari bayi menjadi dewasa-baligh- peran orang tualah yang menunjukkan sang anak jalan yang lurus. Anak kita mau kita jadikan Yahudi, nasrani atau majusi tergantung bagaimana orang tua mendidik anak – anak mereka. Prinsipnya pada tangan orang tua tanggung jawab mendidik anak menjadi orang mukmin yang sholeh dan sholehah.

Didalam mendidik anak – anak kita terkadang orang tua terlalu berkaca pada masa lalu mereka. Anak harus ini, harus itu, seperti ini, seperti itu tanpa memberikan ruang bagi anak untuk berkembang mandiri. Atau kadang – kadang ada orang tua yang karena alasan cinta kepada anak justru membiarkan sesuai kemauan anak, apa aja diiyakan akibatnya control otang tua terhadap anak lemah. Berikut ini adalah beberapa contah tindakan kurang tepat yang sering dilakukan orang tua kepada anak – anaknya dan trik –tip mengatasinya.

1. TIDAK MENGAJARKAN DISIPLIN PADA ANAK

Ketiadaan disiplin sejak dini menyebabkan anak sulit memfokuskan diri pada satu kegiatan sampai usai. Anak juga sulit untuk berpikir dan mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi.

Beberapa alasan orang tua tidak mengajarkan disiplin

· menganggap setelah besar anak akan disiplin dengan sendirinya

· takut anak jadi terkekang, kehilangan kebebasan sebagai anak-anak, dan lainnya karena menganggap disiplin identik dengan sikap kaku, tegas, dan menyusahkan.

· Enggan ”berargumen” dengan anak karena lebih fokus pada perilaku anak yang enak didengar dan dilihat ketimbang tujuan dari konsistensi sikap orang tua, yaitu mengajarkan disiplin pada anak

· Pada dasarnya orang tua memang tidak punya sikap disiplin. Yang mereka miliki justru ”toleransi ” yang tinggin terhadap pelanggaran aturan yang telah disepakati bersama.

Ketiadaan disiplin bagi anak yang mulai memasuki usia sekolah (6-12 tahun) menyebabkan anak akan mengalami kesulitan mengikuti aturan sekolah sekolah dasar yang jauh lebih disiplin daripada TK. Sering ketinggalan buku pelajaran, lupa tidak mengerjakan tugas/PR, dan keteledoran lainnya. Anak juga lebih sering ”berantem” dengan orang tua/pengasuh karena perbedaan antara harapan dan kenyataan yang makin jauh. Misal orang tua berharap anak bisa menjaga barang miliknya, tetapi karena kemampuan disiplinnya belum berkembang, maka harapan itu makin jauh dari kenyataan.

Hal yang sebaiknya dilakukan orang tua

· Bantu anak membuat jadual harian, kapan waktu sholat, belajar, makan, main, dan istirahat.

· Buat tabel sanksi. Misal kesalahan yang sama terulang sekian kali, maka waktu bermainnya dikurangi.

Untuk itu diperlukan Tip bagi orang tua untuk menciptakan kondisi kondusif terhadap pembentukan sikap disiplin anak, diantaranya :

· orang tua harus menjadi contoh nyata bagi anak dalam berdisiplin

· orang tua Perlu konsisten dalam bersikap

· Perlu pembiasaan dan pembelajaran

· Ada tindakan konkret dalam penanaman disiplin sesuai dengan kesepakatan. Reward & Punishment.

· Adanya kesamaan sikap dari ayah dan ibu, dan orang-orang yang terlibat dalam kehidupan anak. Seperti kakek, nenek, tante, om, dsb

2. MENYEDIAKAN FASILITAS BERLEBIHAN

Bagi anak usia 6-8 tahun, tak punya fasilitas sama buruknya dengan memiliki fasilitas berlebihan. Anak justru under motivation (tak termotivasi) karena apapun yang diinginkan langsung diperoleh. Anak tidak tergerak untuk memaksimalkan fasilitas tersebut. Anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak kretif, maunya serba mudah, dan tidak belajar mengoptimalkan fasilitas minim sehingga akan kesulitan ketika fasilitas tersebut tak lagi dimiliki.

Beberapa alasan orang tua menyediakan fasilitas bagi anak

· agar wawasan dan kreatifitas anak semakin terasah. Tak heran jika orang tua berlomba-lomba memberikan fasilitas lengkap dan terbaik buat anaknya. Bahkan ada yang menyediakan fasilitas meskipun belum dapat dimanfaatkan.

· Membangun kepercayaan diri anak, karena dengan fasilitas anak dapat menyalurkan kemampuannya

· Gengsi dan tuntutan lingkungan. Misalnya komputer, HP, motor, dll yang sebenarnya belum dibutuhkan anak.

Hal yang sebaiknya dilakukan orang tua

· Berikan anak fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya

· Beri tanggung jawab terhadap barang-barang yang dimiliki

· Berikan reward & punishment terhadap penggunaan fasilitas yang diberikan.

3. Membanding-bandingkan anak

Membanding-bandingkan anak dapat memyebabkan rasa rendah diri, sehingga dapat menghambat segala potensinya. Orang tua perlu mengetahui potensi yang dimiliki anak untuk membangkitkan motivasi agar anak mengasah potensinya masing-masing, bukan malah membanding-bandingkan. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing anak, orang tua dapat membantu mengasah potensi yang dimiliki.

Berapa alasan orang tua membanding-bandingkan anaknya

· orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, sehingga berharap dengan memberi perbandingan akan memotivasi anak untuk menjadi sama bahkan lebih baik dari yang dibandingkan.

· Orang tua kurang memahami individual differences anak baik fisik, karakter, maupun talentanya. Misal anak yang berbakat di bidang matematika dianggap pandai, sementara yang berbakat di bidang seni tidak.

Yang sebaiknya dilakukan orang tua

  • memgenali kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing anak, selanjutnya memberi dorongan untuk bahagia menjadi dirinya sendiri.
  • memberi pujian bila anak melakukan hal-hal yang baik, dan beritahu serta arahkan bila anak melakukan kesalahan.

4. PELIT PUJIAN

Kebanyakan orang tua lebih menyoroti perilaku buruk anaknya daripada perilaku baik. Sehingga yang kerap terjadi anak lebih ”akrab” dengan hukuman daripada pujian. Anak yang jarang mendapat pujian akan merasa kurang disayang, merasa tertekan dan dapat berdampak pada prestasi belajar yang rendah.

Beberapa alsan orang tua pelit pujian

· orang tua khawatir anak akan jadi besar kepala atau mudah merasa puas, sehingga tak termotivasi lagi melakukan yang terbaik.

· Orang tua sulit mengekspresikan perasaan emosinya, sehingga meskipun senang dan bangga dengan anaknya, mereka mengalami kesulitan untuk mengekspresikannya dalam bentuk ungkapan langsung atau pujian.

Untuk menghindari hal itu maka sebaiknya orang tua mencoba menerapkan tip sebagai berikut :

  • Mulailah belajar untuk memberi pujian pada setiap perilaku baik anak, sehingga anak tahu apa yang dilakukan itu baik dan berusaha mengulanginya lagi.
  • Lakukan differential reinforcement, yaitu berikan pujian pada perilaku baik/benar anak, sebaliknya beritahu serta arahkan jika anak salah.

5. MENGINGINKAN ANAK HARUS DAPAT RANGKING atau JUARA

Banyak orang tua mem-push anaknya untuk mendapat rangking, tidak perduli bagaimana proses belajar yang harus dilakukan. Bila orang tua menuntut anak mendapat rangking padahal kemampuannya belum terasah optimal, anak akan merasa terbebani dan memunculkan stress. Selanjutnya stress akan berpengaruh memunculkan konsep diri yang negatif, merasa tidak bisa diandalkan, emosinya sering meledak, malas belajar, dan mogok sekolah, atau bahkan berbuat curang agar mendapat nilai tinggi dengan cara menyontek.

Yang sebaiknya dilakukan orang tua

· Terima segala kelebihan dan kekurangan anak dengan bersikap supportif, selalu memberi dukungan dan bimbingan sesuai dengan potensinya masing-masing.

· Hindari memaksa anak menjadi nomor satu. Yang terbaik beri dukungan kepada anak untuk giat belajar. Bila anak lemah dalam pelajaran tertentu, sediakan guru privat yang bisa membanu mengatasi kesulitan-kesulitannya.

· Bersikap proporsional terhadap hasil belajar anak, yang penting bukan rangking tetapi anak menunjukkan kerja keras dalam belajarnya. Bila anak sudah berupaya keras dalam belajarnya, meskipun tidak mendapat rangking, tetap harus dihargai.

· Bila anak memang memiliki potensi yang tinggi, boleh saja memotivasi untuk mendapat rangking, tetapi tetap lebih ditekankan proses belajar bukan hasilnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s